~ Gubernur Riau Apresiasi Kapolda
~ Operasi PETI Sukses Pulihkan Sungai Kuantan
KUANSING – Dua hari jelang perhelatan akbar Festival Pacu Jalur Nasional 2025, Sungai Kuantan menampakkan wajah berbeda: airnya kembali jernih.
Pemandangan ini menjadi buah dari kerja keras aparat kepolisian yang menindak praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) yang selama bertahun-tahun mencemari sungai kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi.
Gubernur Riau Abdul Wahid tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Saat meninjau Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Senin (18/8) kemarin, ia memberi acungan jempol kepada Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, yang memimpin langsung operasi pemberantasan PETI.
“Dulu Sungai Kuantan ini keruh, hari ini sudah jernih. Luar biasa Pak Kapolda,” ujar Wahid.
Turut mendampingi, Bupati Kuansing Suhardiman Amby, yang juga tak kalah antusias. Ia menilai upaya ini memberi dampak langsung terhadap wajah Kuansing menjelang kedatangan tamu nasional maupun mancanegara.
“Inilah gelanggang Pacu Jalur nasional, Tepian Narosa. Sungainya sudah jernih, ayo datang ke Kuansing,” ajak dia.
Operasi PETI Dua Pekan
Polda Riau menggelar Operasi PETI sejak 31 Juli hingga 13 Agustus 2025. Selama dua pekan, polisi bersama TNI dan pemerintah daerah bergerak di lapangan, menertibkan tambang emas ilegal yang merusak ekosistem Sungai Kuantan.
Kapolda Irjen Herry Heryawan menegaskan, operasi ini bukan sekadar agenda menjelang festival, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang menjaga lingkungan.
“Kita melihat sendiri, situasi sudah sangat jauh berubah dibanding 2–3 minggu yang lalu. Insyaallah dengan kolaborasi Pemda, kepolisian, dan TNI, praktik PETI tidak lagi terjadi,” tegasnya.
Herry juga memastikan penertiban tak berhenti pada momen Pacu Jalur. Ia ingin menjadikan sungai sebagai warisan generasi mendatang, bebas dari kerusakan akibat tambang liar.
“Tahun depan kita berharap lebih baik lagi. Salam kayuah,” katanya menutup dengan seruan khas Pacu Jalur.
Sungai, Identitas dan Kehidupan
Bagi masyarakat Kuansing, Sungai Kuantan bukan sekadar aliran air. Ia adalah nadi kehidupan, tempat anak-anak belajar berenang, ibu-ibu mencuci, petani menggantungkan sawah, hingga ajang kebanggaan bersama lewat Pacu Jalur yang sudah berusia ratusan tahun.
Kejernihan sungai menjadi simbol marwah dan identitas. Maka, ketika airnya kembali jernih, masyarakat menyambutnya bukan hanya sebagai keberhasilan aparat, tetapi juga sebagai awal dari harapan baru: Kuantan Singingi yang lebih bersih, ramah lingkungan, dan berdaya saing pariwisata.
Festival Pacu Jalur 2025 sendiri akan digelar pada 20–24 Agustus 2025, dengan ratusan jalur (perahu tradisional) dari berbagai desa siap berlaga di Tepian Narosa.
Ribuan wisatawan domestik hingga tamu internasional diperkirakan hadir, menyaksikan bagaimana Sungai Kuantan menjadi saksi adu cepat, adu kompak, dan adu marwah anak negeri. (urd)

