Oleh: Rida K Liamsi
MENGAPA Riau patut menjadi pusat tamadun Melayu antar bangsa? Mengapa Riau harus berperan sebagai pusat tamadun dunia Melayu?
Riau punya setidaknya tiga kekuatan teras kemelayuan yang dapat menjadi prasyarat dan aspek penting sebuah pusat tamadun dunia Melayu. Aspek dan kekuatan ini berasal dari jejak panjang sejarah dan budaya Melayu:
1. Riau dahulu adalah pusat Kemaharajaan Melayu Siak Sri Indrapura yang daerah kekuasaannya membentang sepanjang pantai timur Sumatera. Sama seperti Kemaharajaan Melaka, Siak Sri Indrapura adalah penerus dinasti Melaka, Johor, dan darah Bukit Siguntang.
2. Riau adalah pewaris sah filosofi Melayu: esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di dunia. Semangat filosofi ini wujud di Riau dalam bentuk adanya warisan bahasa dan aksara Melayu, warisan adat istiadat yang tetap hidup dan dipakai oleh masyarakatnya, serta Islam sebagai agama pemersatu dan penerus kemelayuannya sejak zaman Sriwijaya.
3. Riau punya Tunjuk Ajar Melayu, karya utama Datuk Tenas Effendy, sebagai doktrin yang telah merumuskan dengan cermat dan cerdas tentang kemelayuan serta seluruh adat dan tradisinya. Karena itu, patutlah jika di Riau didirikan pusat studi budaya Melayu, sebuah institut budaya: Institut Tenas Effendy, tempat masyarakat dunia dapat belajar. Yang lebih penting, hanya kemelayuanlah yang dapat membuat Riau menjadi istimewa dan dipandang dunia. Bukan minyak, bukan hutan—kemelayuanlah yang dapat menggerakkan Riau menjadi sebuah daerah khusus, menyatukan visi dan mimpi masa depan dunia Melayu.
Bagaimana mewujudkannya? Apa langkah strategisnya?
Kita mulai dengan mendirikan lembaga independen sebagai pusat kajian kemelayuan yang kita namakan Pusat Kajian Kemelayuan Tenas Effendy, yang akan menjadi forum untuk mendiskusikan pikiran Tenas Effendy yang terhimpun dalam masterpiece-nya, Tunjuk Ajar Melayu, yang ditulis 20 tahun lalu berdasarkan riset beliau selama 30 tahun. Kelak, lembaga pusat kajian ini bisa saja berkembang menjadi Institut Tenas Effendy, sebagaimana teman-teman di Melaka mendirikan Institut Tun Perak sebagai lembaga perawat dan penyebar luas pemikiran serta kewiraan Tun Perak.*
Rida K Liamsi, Budayawan

