ENAM puluh delapan tahun lalu, sebuah nama resmi terpatri di peta Indonesia: Riau. Sejak itu, provinsi ini memanggul sejarah panjang, warisan peradaban Melayu, dan kekayaan alam yang mengundang decak kagum sekaligus kecemasan.
Peringatan hari jadi bukan sekadar mengingat tanggal. Ia adalah jeda sejenak untuk menggali permenungan, mengukur sejauh mana kita berjalan, apa yang telah kita jaga, dan apa yang terancam hilang. Gubernur Riau Abdul Wahid dalam amanatnya mengingatkan, pembangunan yang sejati bukan hanya soal gedung tinggi dan jalan mulus. Ia harus menyeimbangkan kemajuan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.
Pesan itu seolah mengetuk nurani. Di tanah yang kaya minyak, sawit, dan hasil laut ini, kita pernah lupa bahwa alam punya batas. Kebakaran hutan dan kabut asap menjadi peringatan pahit. Maka, melestarikan lingkungan bukanlah pilihan tambahan, melainkan amanah hidup. Sebab jika alam rusak, runtuh pula marwah kita.
Generasi muda Riau, yang tumbuh di era teknologi tanpa batas, memikul warisan ganda: menguasai masa depan tanpa kehilangan masa lalu. Ilmu pengetahuan dan keterampilan harus berjalan beriringan dengan pantun, syair, dan nilai-nilai Melayu yang menjaga identitas.
Tantangan pemerataan juga tak kalah penting. Masih ada jarak yang lebar antara pesisir dan pedalaman, antara hiruk pikuk kota dan sunyi desa. Pembangunan harus hadir di semua sudut, memastikan tak ada satu pun anak negeri yang tertinggal.
Di usia 68 tahun, Riau memanggil kita semua untuk memperbarui janji: membangun tanpa merusak, maju tanpa tercerabut dari akar budaya, dan sejahtera tanpa meninggalkan siapa pun. Persatuan adalah pondasi, dialog adalah cara, dan marwah adalah jiwa.
Selamat hari jadi, Riau. Barakallah fii umrik. Semoga usia yang bertambah menjadi berkah yang memanjang—bukan temata dalam hitungan tahun, tetapi dalam nilai dan kemuliaan yang dijaga untuk generasi mendatang. (redaksi)

