RIAU – “Gajah adalah harga diri Sumatera. Mereka bukan sekadar satwa, tetapi arsitek hutan, penyeimbang ekosistem, dan penjaga warisan budaya kita,” ujar Kapolda Riau Irjen Pol Dr Herry Heryawan, SIK, MH, MHum, dalam pesan peringatan Global Elephant Day 2025 atau Hari Gajah Sedunia yang jatuh pada hari ini, 12 Agustus.
Dalam pernyataannya, Herry menegaskan bahwa keberadaan gajah Sumatera kian terancam akibat perusakan hutan, konflik dengan manusia, hingga kematian yang sering tidak terselesaikan secara hukum. “Melindungi gajah berarti menjaga keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan alam,” tegasnya.
Polda Riau, lanjut Herry, berkomitmen menegakkan hukum dalam kasus satwa dilindungi, termasuk gajah, demi menjaga martabat Sumatera dan masa depan ekologi yang adil bagi semua makhluk. Ia mengajak semua pihak bersatu langkah memastikan gajah tetap hidup di tanah kelahirannya.
Sejarah Hari Gajah Sedunia
Hari Gajah Sedunia diperingati setiap 12 Agustus sebagai upaya global meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan gajah. Menurut catatan National Today, peringatan ini lahir pada 2012 berkat Patricia Sims bersama Elephant Reintroduction Foundation of Thailand dan dukungan lebih dari 100 organisasi konservasi gajah di seluruh dunia.
Latar belakangnya cukup memprihatinkan: populasi gajah mengalami penurunan signifikan hingga 62 persen dalam beberapa dekade terakhir. Tanpa langkah serius, gajah dikhawatirkan akan punah pada akhir dekade mendatang.
Ancaman terbesar datang dari perburuan liar. Setiap hari, sekitar 100 gajah Afrika dibunuh untuk diambil gadingnya. Padahal, gajah memiliki peran vital menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati. Kehilangan gajah berarti kehilangan salah satu penjaga alam terbaik yang pernah dimiliki manusia.
Memperingati Hari Gajah Sedunia bukan sekadar mengenang, tetapi menjadi momentum memperkuat komitmen perlindungan satwa dan alam. Seperti pesan Kapolda Riau, “Mari jaga mereka, seperti kita menjaga rumah kita sendiri.” (uty)

