Ketika Malang Mengilhami Batam: Merumuskan Kampung Madani dari Lorong Kayutangan

MALANG – Selasa (9/9/2025) siang, suasana lantai 2 Gedung Kartini Imperial, Jl Tangkuban Perahu, Kota Malang, dipenuhi perbincangan hangat seputar masa depan peradaban kota. 

Sedikitnya 10 pengurus Gerakan Masyarakat Madani (GMM) Kota Batam bersama jajaran Dinas Pariwisata Kota Batam melakukan kunjungan silaturahmi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang.

Kunjungan ini bukan sekadar temu ramah. Di balik agenda itu tersimpan sebuah misi besar, yakni mencari inspirasi dari Malang untuk mewujudkan Bandar Dunia Madani, visi yang sejak awal ditekankan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.

Sekretaris Jenderal GMM, Syamsul Ibrahim, menjelaskan bahwa masyarakat sering kali mengenal Batam hanya dari dua wajahnya: kota industri dan destinasi wisata belanja. Namun ada dimensi yang belum terjelaskan, di mana letak Madani-nya?

“Madani adalah warisan Nabi Muhammad, bagaimana Muhajirin dan Anshar membangun peradaban dengan sinergi antara pendatang dan penduduk tempatan. Batam hari ini situasinya hampir serupa. Sekitar 73 persen warganya adalah pendatang, sedangkan yang tempatan sekitar 20 persen,” ujar Syamsul.

Bagi GMM, menanamkan nilai madani berarti membangun fondasi peradaban: harmoni sosial, kepedulian, dan etika bermasyarakat. Dan itu tak bisa dipisahkan dari wajah pariwisata kota.

Rombongan GMM dan Dinas Pariwisata Batam sempat meninjau Kampung Heritage Kayutangan, sebuah kawasan wisata kota lama yang kini menjelma destinasi unggulan Malang.

Di sana, mereka menemukan pola menarik. Tengku Zulkifli Aka, Ketua Harian GMM, menuturkan bahwa tata kelola Kayutangan bukan hanya soal cat warna-warni atau lorong mural. Lebih dalam dari itu, ada kearifan sosial yang diterapkan warganya.

“Jam 10 malam, kawasan heritage ditutup. Anak-anak sudah harus berada di rumah. Itu sederhana tapi sarat makna: ada ketertiban, ada nilai yang membimbing wisata agar tak melampaui batas. Ajaran madani ternyata bisa berjalan seiring dengan pariwisata,” ujar Zulkifli.

Pengalaman itulah yang kemudian dibawa pulang sebagai inspirasi. Di Batam, ada lebih dari 100 kampung tua—warisan sejarah yang hingga kini masih berdiri. “Kami ingin menjadikannya sebagai Kampung Madani, perpaduan antara nilai keislaman, kearifan lokal, dan pengembangan wisata,” tambah dia.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Malang, KH Israqunnajah, menyambut hangat kunjungan. Ia ditemani sejumlah jajaran ulama dan pengurus MUI Kota Malang, seperti KH Huzairi, KH Nursalim, KH Abdurrahim, KH Junar Mulia, KH Taufik Kusuma, serta tokoh perempuan Bu Asmawati.

Dalam pandangan KH Israqunnajah, Malang sendiri adalah kota dengan lapisan sejarah peradaban yang panjang, dari Kerajaan Kanjuruhan, Singosari, Majapahit, hingga Mataram Kuno. Bahkan, Bung Karno nyaris memproklamasikan kemerdekaan di Malang dan sempat menominasikannya sebagai calon ibu kota negara.

“Malang juga pernah dijadikan pilot project kristenisasi di masa Belanda. Maka tantangan MUI di Malang juga tak kalah kompleks, di antaranya adalah bagaimana menjaga harmonisasi antar-umat, di tengah keberagaman yang sudah mengakar sejak lama,” jelas Israqunnajah.

Baginya, prinsip madani sejalan dengan peran MUI: merawat keseimbangan. Perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, misalnya, tidak lagi dipersoalkan. “Apalagi kedua pendiri ormas itu belajar dari guru yang sama. Kami menjaga harmonisasi, sebagaimana ruh Madani itu sendiri,” katanya.

Israqunnajah pun mengapresiasi langkah GMM yang berusaha menanamkan nilai madani di Batam sebelum kota industri itu kian terbuka pada arus global. “Ini semacam mitigasi peradaban. Saya kira ini langkah bijak,” tambahnya.

Konsep kampung madani yang ingin diusung GMM untuk diterapkan di kampung-kampung tua Batam, berpotensi menjadi terobosan di Batam. Bila kampung wisatamenekankan estetika, atraksi, dan daya tarik ekonomi, maka kampung madanimenambahkan lapisan moral dan sosial.

Di dalamnya, pariwisata tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama tata nilai: waktu istirahat warga dihormati, anak-anak tetap diarahkan, dan interaksi pengunjung dengan masyarakat lokal berlangsung dengan saling menghargai.

Artinya, kampung madani bukan hanya ruang rekreasi, melainkan juga ruang pendidikan sosial. Wisatawan yang datang tidak sekadar berfoto, tetapi juga menyerap nilai kearifan masyarakat yang beradab.

Kunjungan ini tentu saja menandai sebuah persimpangan penting. Batam sebagai kota industri dengan 100 lebih jumlah kampung tua kini berupaya mencari wajah baru, bagaimana menjadi bandar dunia yang bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga berakar pada nilai madani.

Dari lorong-lorong Kayutangan, rombongan GMM melihat bahwa harmoni, ketertiban, dan kearifan warga bisa menjadi fondasi yang sama kuatnya dengan gedung pencakar langit atau kawasan industri.

Di situlah, Madani menemukan rumahnya. (ramon d)