PEKANBARU – Gubernur Riau Abdul Wahid mengutarakan target ambisius yang tengah ia kejar: pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5 persen pada akhir 2025. Optimisme ini disampaikan di tengah gemuruh semangat para pengusaha muda yang memenuhi Gedung Daerah Balai Serindit, kemarin (1/8).
Wahid tak asal ujar. Target tersebut menurutnya lahir dari komitmen yang dibangun oleh fondasi tren positif dan kerja lintas sektor yang intensif sejak awal tahun.
“Alhamdulillah, triwulan pertama tahun ini sudah 4,65 persen. Saya yakin kita bisa tembus 5 persen di akhir tahun,” ucap Wahid penuh keyakinan saat menghadiri pelantikan Badan Pengurus Daerah HIPMI Riau masa bakti 2025–2028, Jumat (1/8).
Optimisme tidak datang begitu saja. Data menunjukkan, sepanjang 2024 pertumbuhan ekonomi Riau hanya berada di angka 3,52 persen. Tapi memasuki tahun politik yang sarat tantangan tahun lalu, arah ekonomi Riau justru menguat.
Bagi Wahid, angka bukan semata statistik. Ia melihatnya sebagai cerminan kerja keras pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat yang bahu-membahu memulihkan fondasi ekonomi pasca-pandemi dan pasca-fluktuasi global.
Dalam pidatonya, Wahid menekankan, struktur ekonomi Riau bertumpu pada tiga sektor utama: minyak dan gas bumi, perkebunan, serta industri pulp dan kertas. Ketiganya telah menjadi penyumbang utama devisa sekaligus penopang pertumbuhan di Bumi Lancang Kuning.
“Tiga sektor ini yang paling banyak menyumbang devisa. Tapi sektor lain juga tak kalah penting. Kita tidak bisa bergantung pada satu-dua komoditas saja,” katanya.
Keseimbangan inilah yang menjadi kata kunci. Pemerintah Provinsi Riau, melalui berbagai instrumen kebijakan, mendorong iklim investasi yang ramah dan progresif. Hasilnya mulai terlihat. Pada triwulan pertama 2025, Riau mencatat realisasi investasi sebesar Rp21,63 triliun. Dari jumlah itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan kontribusi Rp18,04 triliun, menempatkan Riau di posisi keempat nasional.
Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp3,59 triliun membawa Riau ke peringkat ke-15 nasional. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, angka ini menunjukkan lonjakan 19,92 persen. Secara kumulatif, 28,1 persen dari target investasi tahunan sebesar Rp76,96 triliun sudah tercapai.
“Sinyal ini kuat. Artinya, ruang untuk tumbuh masih terbuka lebar,” tegas Wahid.
Namun di balik angka-angka yang menggembirakan itu, Riau masih dibayangi masalah klasik, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setiap tahun, musim kemarau membawa risiko besar, tak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi kepercayaan investor.
“Saya tahu iklim investasi akan terganggu jika pencemaran lingkungan tidak kita atasi. Maka dari awal saya berdedikasi agar tahun ini Riau bebas asap,” ucapnya.
Sejak April 2025, Pemprov Riau menetapkan status siaga darurat karhutla. Tapi karena titik api terus meluas, status itu ditingkatkan menjadi tanggap darurat pada 22 Juli. Melalui kolaborasi dengan TNI/Polri, Kementerian terkait, dan OPD, upaya mitigasi dilakukan secara terstruktur. Salah satunya adalah teknologi modifikasi cuaca.
“Alhamdulillah, satu minggu terakhir turun hujan. Ini berkat modifikasi cuaca. Hampir 40 ton garam kita sebarkan di langit Riau. Hasilnya, api mulai padam,” kata Wahid.
Bagi Wahid, pembangunan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari peran generasi muda. Karena itu, dalam kesempatan pelantikan pengurus HIPMI, ia tak hanya hadir sebagai pejabat daerah, tetapi juga sebagai sahabat para wirausahawan muda.
Ia berharap HIPMI bisa melahirkan pelaku usaha yang tangguh, adaptif, dan mampu menghadapi dunia bisnis yang terus berubah.
“HIPMI bukan sekadar mitra, tapi bagian dari arah pembangunan Riau. Saya lihat anak-anak muda yang tampil tadi luar biasa. Semoga ini jadi semangat baru bagi kita semua,” demikian Wahid. (urd)

