Oleh: Herry Heryawan*
DI tepian Sungai Kampar, hiduplah seorang pemuda bernama Kacak, keturunan keluarga dubalang. Sejak kecil, ia sudah ditempa dalam latihan yang berat oleh ayahnya, seorang dubalang tua yang disegani. Latihan itu bukan sekadar menguatkan otot, melainkan mendidik jiwa.
Ayahnya selalu berkata:
“Dubalang sejati harus lengkap empat perkara: iman yang menuntun, raga yang tangguh, akal yang jernih, dan tutur yang benar.”
Maka dimulailah latihan itu:
• Iman: setiap subuh Kacak diajak berwudhu’ di sungai, lalu shalat di surau. “Pegang imanmu, Nak,” kata ayahnya, “karena dubalang tanpa iman hanyalah preman.”
• Raga: selepas subuh, ia diajak berlari menyusuri tepian sungai, berenang melawan arus, memanggul kayu di hutan. “Ragamu harus kuat, sebab dubalang adalah tameng kaum.”
• Akal: menjelang senja, Kacak duduk mendengar ayahnya bercerita tentang sejarah negeri, tipu daya musuh, dan cara membaca tanda alam. “Akalmu harus tajam, supaya tidak mudah diperdaya.”
• Tutur: di malam hari, ia dilatih berbicara di depan orang banyak, menyampaikan pesan dengan kata yang tenang namun tegas. “Tuturmu adalah marwahmu, karena lidah dubalang bisa menenteramkan, bisa pula menyalakan api.”
Hari berganti tahun. Kacak tumbuh bukan hanya sebagai pemuda kuat, namun juga bijak, tenang, dan berwibawa.
Namun zaman berubah. Ancaman kaum kini bukan lagi perampok kampung atau penyamun jalanan, melainkan narkoba yang menyusuri sungai, perdagangan manusia yang mengintai perbatasan, dan kerusakan hutan serta laut yang merampas napas bumi.
Kegelisahan Kacak terjawab ketika Polda Riau datang ke balai kampung, berbicara tentang Green Policing dan melapor ke datuk kampung kalau sudah banyak anak-anaknya yang membalak hutan sambil menyesap narkoba.
Saat itu, Kacak sadar: latihan yang ia jalani sejak kecil ternyata bukan hanya untuk kampungnya, tetapi untuk seluruh bumi Melayu Riau.
Ia pun bergabung menjadi Dubalang Lancang Kuning, Mitra Polda Riau: menjaga sungai, melindungi pesisir, dan memastikan perairan Riau tidak lagi menjadi lorong gelap kejahatan.
Kini, saat ia memimpin para pemuda patroli sungai bersama polisi, Kacak kembali teringat pesan ayahnya:
“Imanmu menuntun jalanmu. Ragamu menjadi tameng bangsamu. Akalmu membaca tipu daya. Tuturmu menjaga marwah. Itulah dubalang sejati.”
Dan di bawah cahaya bulan di atas Sungai Kampar, Kacak tahu: ia bukan sekadar penjaga kampung, melainkan bagian dari garda terdepan menjaga Riau nan hijau.
Sungai Kampar, 13 September 2025
*Herry Heryawan, Kapolda Riau

