Dari Disiplin yang Menyegarkan hingga Filsafat Hedonisme: Lari Pagi bersama Kapolda Riau

PEKANBARU — Udara pagi masih terasa lembab ketika sekelompok polisi mulai memacu langkah di depan Mapolda Riau. Tak hanya anggota berpangkat rendah, di barisan depan tampak sang pemimpin sendiri, Irjen Pol. Herry Heryawan, berlari bersama mereka. Dengan seragam olahraga dan nafas teratur, Kapolda Riau itu menunjukkan bahwa kedisiplinan adalah teladan yang ditunjukkan lewat tindakan nyata.

“Pagi jangan cuma lewat. Lari dulu, baru lanjut tugas,” tulis Irjen Herry dalam sebuah unggahan singkat namun penuh makna di akun media sosial pribadinya, Sabtu (3/8/2025). Kalimat itu disertai potongan video yang menampilkan semangat para anggota Polri berlari bersama sang jenderal.

Kebugaran yang Menyatukan

Bagi sebagian orang, olahraga adalah rutinitas. Namun bagi Irjen Herry, aktivitas ini adalah bagian dari filosofi hidup. “Badan sehat, pikiran segar, hati tetap sigap. Disiplin itu bukan beban, tapi gaya hidup,” ujarnya.

Sejak menjabat sebagai Kapolda Riau, Irjen Herry dikenal sebagai sosok yang aktif dan dekat dengan bawahannya. Lewat langkah-langkah ringan di pagi hari, ia menjalin komunikasi tanpa sekat. Tak ada jarak antara pangkat dan jabatan, hanya semangat yang menyamakan langkah.

“Lari pagi seperti ini merupakan semangat kebersamaan, membangun ikatan, dan saling menguatkan,” ujar salah satu personel yang ikut berlari pagi itu.

Tak heran jika unggahan Kapolda tersebut mendapat banyak tanggapan positif dari publik. Tagar seperti #BugarItuPerlu, #SantaiTapiDisiplin, dan #MelindungiTuahMenjagaMarwah menjadi pengingat bahwa kekuatan institusi terletak pada manusia di dalamnya—yang sehat dan sigap.

Hedonisme yang Mencerahkan

Di sela kegiatan, Irjen Herry sempat menyinggung soal filsafat klasik yang jarang disentuh dalam konteks kepolisian, yakni hedonisme ala Epicurus, filsuf Yunani Kuno.

“Jangan hedon dengan panca indera, karena itu cepat habis,” ujarnya. “Makan enak cepat kenyang. Lihat tas mahal, misalnya Hermes, hanya membuat lapar mata. Setelah beli, ya berlalu begitu saja. Tapi kalau hedon yang positif lewat ilmu pengetahuan, itu lain. Ia justru melahirkan moral yang prima.”

Pernyataan itu merujuk pada pemikiran Epicurus yang kerap disalahpahami. Hedonisme dalam filsafatnya bukan sekadar mencari kenikmatan indrawi, tetapi mengejar kebahagiaan yang mendalam dan bertahan lama, berupa ketenangan batin, pertemanan yang sehat, dan hidup penuh pengetahuan.

Bagi Kapolda Riau, “kenikmatan” sejati bukanlah dalam bentuk glamor, tetapi dalam tubuh yang sehat, pikiran yang terbuka, dan hati yang terdidik. Di sinilah lari pagi bukan sekadar olahraga, tetapi ruang kontemplasi dan pembelajaran. (urd)