INHIL – Sebuah harapan baru ditanamkan di tengah hamparan angin laut dan deru ombak pesisir Mandah, kemarin (26/7). Gubernur Riau Abdul Wahid meresmikan Pesantren Ekologi di Desa Belaras Barat, menandai langkah strategis Pemerintah Provinsi Riau dalam memadukan nilai-nilai keagamaan dengan upaya pelestarian lingkungan hidup.
Dibangun di salah satu wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan perubahan iklim, pesantren ekologi hadir sebagai simbol komitmen baru. Bahwa menyelamatkan bumi bukan hanya tugas ilmuwan dan aktivis, melainkan juga para santri. Mereka adalah penjaga iman dan kini juga penjaga alam.
“Kerusakan alam di daerah pesisir harus ditangani melalui pendekatan holistik yang menyentuh hati dan perilaku generasi muda,” ujar Gubernur Abdul Wahid dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya pendidikan agama yang berakar kuat pada aksi nyata pelestarian lingkungan.
Dalam suasana yang khidmat, peresmian turut dihadiri Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat desa. Hadir pula Kapolda Riau, Bupati Indragiri Hilir, Kapolres Inhil, Dandim 0314/Inhil, Kepala Dinas LHK Riau, serta berbagai komunitas lingkungan yang selama ini aktif mendampingi masyarakat pesisir.
Pesantren Ekologi dirancang sebagai tempat belajar, sekaligus ladang aksi. Para santri akan dilibatkan dalam pelatihan agroekologi berkelanjutan dan program rehabilitasi mangrove, di mana pohon-pohon bakau akan menjadi benteng alami masyarakat pesisir dari abrasi dan intrusi air laut.
“Dari desa inilah kami berharap lahir generasi muda yang selain menguasai ilmu agama, juga menjadi pelopor pelestarian lingkungan,” kata Gubernur Abdul Wahid. “Pesantren Ekologi ini adalah bentuk nyata bahwa agama dan alam harus berjalan seiring.”
Data menunjukkan, sepanjang 2024, seluas 1.683 hektare hutan mangrove telah direhabilitasi di Riau. Sebanyak 5,3 juta batang mangrove ditanam, melibatkan 56 kelompok masyarakat dan lebih dari 1.100 tenaga kerja lokal. Sebuah langkah yang menyentuh aspek ekologi, serta membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Desa Belaras Barat, Atan Herman, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Bagi desa kecil yang selama ini berjibaku dengan abrasi dan kerusakan lingkungan, kehadiran gubernur dan seluruh rombongan provinsi adalah semacam penegasan bahwa mereka tidak sendiri.
“Perhatian Bapak Gubernur ini menjadi energi besar bagi masyarakat untuk bangkit dan menjaga ekosistem kami,” ucap Atan.
Ia menambahkan, Desa Belaras Barat siap menjadi contoh bagi desa-desa pesisir lainnya. Tidak hanya dalam mengelola pesantren, tetapi juga dalam membangun ekosistem yang hidup berdampingan dengan alam secara harmonis.
Pesantren ekologi juga diharapkan menjadi pusat riset kecil yang bisa memetakan ancaman-ancaman pesisir. Fokus kajian meliputi penurunan kualitas tanah, pencemaran laut, dan maraknya penebangan mangrove ilegal.
Langkah ini sejalan dengan rencana besar Pemerintah Provinsi Riau untuk memperluas program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) kelima kabupaten pada 2025, yakni Indragiri Hilir, Pelalawan, Kepulauan Meranti, Bengkalis, dan Rokan Hilir, dengan target rehabilitasi mencapai lebih dari 4.200 hektare.
Di penghujung acara peresmian, Gubernur Abdul Wahid bersama para tokoh masyarakat, santri, dan pejabat menanam pohon mangrove secara simbolis. Di bawah langit sore pesisir, aksi kecil itu menjadi tanda awal dari gerakan besar, yang bertajuk Santri Peduli Lingkungan.
Di tanah yang dulu hanya disambangi abrasi dan gelombang laut, kini berdiri tempat di mana doa dan dedaunan bertumbuh bersama. Sebuah pesantren menyiapkan jalan kebaikan, dengan menanam surga kecil di bumi yang sering dilupakan, pesisir Riau. (urd)

