TATKALA di tanah kelahirannya, Pulau Penyengat, pemerintah dan masyarakatnya masih terus berdebat tentang perlunya dibangun sebuah Tugu Bahasa—sebuah monumen yang akan mengenang warisan perjuangan Raja Ali Haji di bidang bahasa—jauh di belahan bumi lain, Turkmenistan, nama Raja Ali Haji justru sudah diabadikan dalam bentuk patung. Negara kecil di Asia Tengah yang berjarak sekitar 7.000 kilometer lebih dari Kepulauan Riau itu, telah lebih dahulu menegakkan batu dan wajah untuk menghormati seorang pujangga Melayu.
Di kaki Pegunungan Kopetdag, di ibu kota Ashgabat yang berkilau marmer putih, dibangun Magtymguly Pyragy Cultural Park Complex, kompleks budaya megah yang mencakup patung monumental sang penyair nasional, Magtymguly Pyragy—tinggi 60 meter dengan dasar 25 meter—sebagai pusat penghormatan atas 300 tahun kelahirannya.
Kompleks ini juga menyuguhkan jalur berisi 24 patung penyair dan pemikir dunia, yang melambangkan persahabatan antarbangsa dan kesatuan warisan budaya umat manusia.
Di antara nama-nama besar itu kita dapati patung Sayat-Nova dari Kaukasus, Yanka Kupala dari Belarus, Du Fu dari Cina, Honoré de Balzac dari Prancis, Shota Rustaveli dari Georgia, Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman, Rabindranath Tagore dari India, Yasunari Kawabata dari Jepang, Mihai Eminescu dari Rumania, William Shakespeare dari Inggris, Sándor Petőfi dari Hungaria, Hafez Shirazi dari Persia, Dante Alighieri dari Italia, Kurmangazy Sagyrbayuly dari Kazakhstan, Chingiz Aitmatov dari Kirgizstan, Adam Mickiewicz dari Polandia, Fyodor Dostoevsky dari Rusia, Juan Ramón Jiménez dari Spanyol, Yunus Emre dari Turki, Hryhorii Skovoroda dari Ukraina, Langston Hughes dari Amerika Serikat, hingga Alisher Navoi dari Asia Tengah.
Dan di antara deretan itu, terpahat pula satu-satunya nama penyair Indonesia: Raja Ali Haji.
Sebuah ironi yang manis. Di negeri sendiri, nama Raja Ali Haji masih sering terkurung dalam buku pelajaran, Gurindam Dua Belas yang dibacakan saat lomba, atau setakat papan nama jalan. Sementara di negeri asing, ia telah diangkat sejajar dengan penyair dunia, dipahatkan dalam wujud visual yang bisa disentuh dan disaksikan.
Kontras itu kian terasa: di Ashgabat, pemerintah Turkmenistan tak segan menegakkan monumen marmer yang megah dan menghadirkan wajah-wajah besar dunia untuk ditonton khalayak; sementara di Penyengat, kita bahkan masih tertatih menimbang perlu tidaknya sebuah tugu bahasa.
Satu negeri jauh berani memahat universalitas puisi, sementara negeri asal penyairnya justru gamang memutuskan bentuk penghormatan bagi tokoh yang telah mengangkat martabat bahasanya.
Raja Ali Haji lahir pada 1808 atau 1809, di Selangor menurut sebagian catatan, atau di Penyengat menurut sumber lain. RAH keturunan Bugis, berakar jauh dari Sultan Selangor. Sejak kecil, ia dididik dalam lingkungan sastra dan agama. Ayahnya, Raja Ahmad—dikenal sebagai Engku Haji—menanamkan kecintaan pada bahasa dan syair. Dari sinilah lahir bakat yang kelak menjadikannya penyusun tata bahasa Melayu pertama dan penulis kamus penjelas bahasa Melayu.
Raja Ali Haji adalah penyambung sejarah dan moral bangsanya. Ia menulis Tuhfat al-Nafis, menuturkan asal-usul Bugis dan Melayu dengan gaya yang memadukan sejarah, politik, dan hikmah. Ia menyusun Gurindam Dua Belas, yang hingga kini masih mengalun sebagai tunjuk ajar etika, menautkan akal dengan budi. Ia mencatat tanggung jawab raja, buah dari usaha, hingga kitab linguistik yang menjadi landasan perkembangan bahasa.
Dari Penyengat, Raja Ali Haji menyalakan api intelektual yang membuat bahasa Melayu kelak diakui sebagai bahasa persatuan Indonesia. Ia tak hanya milik Kepulauan Riau atau Selangor, tetapi milik seluruh kawasan yang menyebut dirinya rumpun Melayu. Karena itulah, pada 2004, pemerintah Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Lalu mengapa Turkmenistan menaruh perhatian pada Raja Ali Haji? Jawabannya ada pada visi budaya mereka: membangun jalur persahabatan umat manusia melalui puisi dan sastra. Turkmenistan, negeri gurun dengan cadangan gas alam melimpah, memilih memahat wajah para penyair untuk menandai jati dirinya. Mereka percaya bahwa penyair adalah pengikat peradaban.
Dan di antara deretan wajah itu, Raja Ali Haji tampil sebagai simbol bahwa Melayu pernah dan masih hadir dalam percaturan kebudayaan dunia. Bahwa seorang ulama dari Penyengat bisa berdiri sejajar dengan penyair Persia, Arab, Rusia, dan Turki.
Namun di tanah kelahirannya sendiri, gagasan mendirikan monumen bagi Raja Ali Haji kerap kandas dalam perdebatan. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk menghadirkan Tugu Bahasa, sebagai penanda bahwa di sini pernah hidup seorang pejuang kalam yang meletakkan dasar bagi bahasa kebangsaan. Di sisi lain, muncul keraguan, apakah mendirikan patung atau tugu menyerupai wajah manusia sejalan dengan syari’at Islam.
Di sinilah dilemanya. Masyarakat Melayu, yang identitasnya berlapis antara budaya dan agama, masih mencari bentuk penghormatan yang dianggap tepat. Apakah cukup dengan tugu abstrak, prasasti, atau simbol pena? Ataukah berani mereka-reka wajah sang penyair agung, lalu menegakkannya di tanah yang melahirkannya?
Satu hal yang tak boleh luput: kita tak patut membiarkan nama besar Raja Ali Haji tersandera dalam perdebatan yang tak kunjung usai. Ia terlalu besar untuk hanya menjadi nama jalan atau catatan di buku sekolah. Ia perlu hadir sebagai wajah, sebagai tugu, sebagai monumen intelektual yang bisa dibaca, disentuh, dan ditafsirkan ulang oleh generasi muda.
Mungkin patung Raja Ali Haji di Turkmenistan itu bisa kita pandang sebagai “wajah yang lain”. Biarlah ia menjadi representasi simbolik di negeri asing. Sementara di tanah Melayu sendiri, kita bisa memulainya dengan lebih teliti, lebih bertanggung jawab. Dengan penelitian sejarah, seni rupa, dan panduan agama yang hati-hati, wajah Raja Ali Haji bisa digubah kembali.
Tak hanya sebagai visual wajah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah—sebab memang tidak ada sumber otentik yang menggambarkan wajah asli Raja Ali Haji; tidak ada lukisan, potret fotografi, atau catatan visual sezaman yang bisa dijadikan acuan pasti—tetapi juga sebagai Tugu Bahasa. Sebuah monumen yang mengingatkan bahwa bahasa adalah jantung peradaban.
Kita tidak boleh melupakan perjuangan Raja Ali Haji. Justru sekaranglah saatnya kita mulai menegakkan penghormatan yang layak: entah dengan wajah yang direkonstruksi secara adab dan ilmu, atau dengan tugu bahasa yang berdiri tegak di jantung Penyengat. Sebab monumen sejati seorang pujangga bukan hanya batu yang mematung, tetapi tekad kita untuk menjaga bahasa dan budinya tetap hidup di tanah sendiri. (ramon damora)

