BATAM — Di Gedung LAM Istana Besar Madani Nong Isa, suasana terasa khidmat sejak pagi Ahad (28/8). Ayat suci Al-Qur’an berkumandang, lalu bergema syair Gurindam 12 yang seakan mengikat setiap hati untuk kembali pada akar budaya. Dari sinilah Rapat Kerja (Raker) Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam dimulai.
Sorotan utama adalah prosesi sakral pelantikan ketua LAM dari 12 kecamatan se-Kota Batam. Nama demi nama dibacakan oleh Sekretaris LAM Kota Batam, Dato’ Muhammad Yunus, sebelum akhirnya satu per satu para pemangku adat itu maju untuk dilantik.
Pelantikan berlangsung dengan tata cara penuh makna. Ketua LAM Kota Batam, YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Muhammad Amin, menobatkan para ketua dengan sentuhan keris di bahu—sebuah simbol tanggung jawab dan keberanian.
Selepas itu, prosesi tepung tawar dipimpin Wali Kota Batam, Dato’ Wira Setia Amanah Amsakar Achmad, bersama tokoh adat. Gemuruh shalawat menggema, mengiringi momen ketika para Dato’ menerima restu dan doa. Hadirin yang memadati Istana Besar Madani pun larut dalam suasana penuh takzim.
Para ketua yang dilantik di antaranya Dato’ Amri Beddu (Ketua LAM Kecamatan Belakangpadang), Dato’ Wahab (Nongsa), Dato’ Tukijan Sarpan (Sekupang), Dato’ Rohaizat (Lubuk Baja), Dato’ Muhammad (Bulang), Dato’ Bakri (Galang), Dato’ Idham (Batuaji), Dato’ Abdul Karim (Batu Ampar), Dato’ Wan (Batam Kota), Dato’ Juanda (Sagulung), YM Dato’ Raja Ibrahim (Bengkong), dan Dato’ Putera (Sungai Beduk).
Dalam sambutannya, Wali Kota Batam menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan mendalam. Amsakar menegaskan agar kepengurusan LAM di kecamatan segera melakukan konsolidasi, menjaga persatuan, dan menghindari perpecahan.
“Segeralah lakukan rembuk internal. Jangan ada cerita sumbang. Kalau nak belantak, belantak-lah di raker. Setelah raker selesai, apapun keputusannya, hargai dan hormati bersama,” ujar Amsakar.
Ia juga menyoroti simbolisme prosesi pelantikan. “Masing-masing disentuh keris, mencium Qur’an, dan ditepung-tawari. Tentu makna mendalamnya agar para Dato’ semua amanah dalam menjalankan tanggung jawab,” tambahnya.
Bagi Amsakar, LAM tidak sekadar lembaga adat, tetapi juga pilar persatuan masyarakat Batam. Karena itu, ia mendorong para ketua LAM kecamatan untuk merangkul semua pemangku kepentingan di wilayahnya.
“Saya yakin, semua Dato’ yang dilantik adalah tokoh yang akan membuat LAM Batam semakin disegani,” kata dia.
Menutup sambutannya, Wali Kota Batam menyampaikan harapannya agar LAM terus bersinergi dengan pemerintah kota. “Siapa lagi yang akan mendukung saya, anak watan Melayu ini, kalau bukan Dato’-Dato’ semua,” ucapnya. Tepuk tangan riuh pun memenuhi ruangan, meneguhkan ikatan adat dan pemerintahan dalam satu nafas kebersamaan. (urd)

