JAKARTA – Indonesia tengah memposisikan diri sebagai kekuatan baru dalam peta ekonomi syariah global. Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Erick Thohir, menegaskan, penguatan ekosistem haji, umrah, dan industri keuangan syariah menjadi strategi utama untuk menjadikan negeri ini sebagai mercusuar ekonomi syariah dunia.
Potensi Indonesia terbilang masif. Dengan populasi muslim terbesar di dunia —sekitar 240 juta jiwa— dan nilai pasar industri halal global yang diproyeksikan mencapai USD 7,7 triliun pada 2025, peluang untuk menjadi pemain utama terbuka lebar. Namun, menurut Erick, pemanfaatannya selama ini belum optimal.
Keberhasilan konsolidasi perbankan syariah menjadi contoh konkret. Merger yang melahirkan Bank Syariah Indonesia (BSI) membawa lompatan signifikan: dari bank syariah yang sebelumnya berada di luar 10 besar bank nasional, kini BSI berada di peringkat kelima nasional dan peringkat sembilan global dalam kategori perbankan syariah.
“Kalau konsolidasi dilanjutkan, BSI bisa tembus lima besar dunia. Bank Syariah Negara yang baru berdiri pun berpeluang masuk 10 besar global,” ujar Erick dalam wawancara dengan Republika, Ahad (10/8).
Erick menekankan, kunci strategi adalah memperkuat pasar domestik. “Kita konsolidasikan market dalam negeri, efisiensikan, profesionalkan, buat transparan, dan maksimalkan pelayanan. Dari sini ekosistem akan bertumbuh dan berpihak kepada bangsa kita,” tegasnya.
Pernyataan ini selaras dengan arah kebijakan ekonomi syariah nasional yang tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019–2024, yang menempatkan sektor keuangan syariah, industri halal, serta penguatan UMKM sebagai tiga pilar utama. Jika strategi ini berjalan mulus, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen terbesar produk halal dunia, tetapi juga eksportir utama dan pusat inovasi keuangan syariah global.
Bagi Erick, orientasi ini mutlak berpihak pada kepentingan rakyat. “Jangan sampai ekosistem yang kita bangun justru menguntungkan pihak lain. Ekonomi syariah harus menjadi kekuatan ekonomi nasional,” pungkas dia. (urd)

