PEKANBARU – Budaya bukan hanya soal nostalgia masa lalu. Budaya juga bisa menjadi mesin ekonomi yang menggiurkan. Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 membuktikannya. Dalam empat hari penyelenggaraan, ajang tahunan ini berhasil memutar uang hingga Rp788.650.000 lewat 80 stan UMKM dan ekonomi kreatif yang berpartisipasi.
Digelar untuk memperingati HUT ke-68 Provinsi Riau, festival ini memadukan kemeriahan hiburan rakyat, pameran benda pusaka, dan bazar ekonomi kreatif. Ribuan warga berbondong-bondong hadir, bahkan rela berdesakan demi melihat Mahkota Kesultanan Siak— ikon pameran yang menjadi magnet terbesar.
Angka kunjungan ke pameran mahkota terbilang impresif: 15.555 orang dalam empat hari. Puncaknya terjadi pada Sabtu (9/8) saat 9.875 pengunjung memadati area. “Data ini membuktikan betapa budaya Melayu punya daya tarik wisata yang luar biasa,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Riau sekaligus Ketua Panitia, Roni Rakhmat.
Namun, di balik keramaian dan nostalgia, denyut ekonomilah yang terasa kencang. Para pelaku UMKM mengaku omset mereka naik berkali lipat. Dari kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga wastra Riau, semua laris manis. “Ini bukti bahwa pariwisata dan budaya bisa menjadi penggerak perekonomian lokal,” tegas Roni.
Kesuksesan ini tak lepas dari orkestrasi besar-besaran: ratusan pelaku seni tampil di panggung, dari tari tradisional hingga mural jalanan; 105 pelaku ekraf membuka lapak; dan 290 tenaga kerja membantu kelancaran acara. Atmosfernya meriah, kolaboratif, dan berwarna, menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan.
Pemerintah Riau berencana menjadikan data capaian ini sebagai pijakan untuk mengembangkan event serupa di tahun-tahun mendatang. Targetnya: bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga mencetak angka perputaran uang yang lebih besar, memperkuat posisi Riau sebagai pusat pariwisata berbasis budaya di Indonesia. (urd)

