Gema Zikir dari Tanah Hulu: UAS, HUT Riau, dan Doa yang Membubung ke Langit

INHU – Tadi malam, Sabtu (9/8), langit Desa Talang Mulya, Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, bertabur bintang tipis. Udara dari kebun sawit dan tepian sungai membawa aroma tanah basah, sementara jalan-jalan desa mulai ramai oleh langkah kaki dan deru kendaraan.

Dari segala penjuru, ribuan orang berdatangan. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam, ada yang datang beriringan membawa keluarga. Mereka tak peduli gelap atau jauh, karena tujuan mereka hanya satu: menghadiri ‘Riau Berzikir’ dan bertemu Ustad Abdul Somad.

Tak ada panggung hiburan. Tak ada dentum musik atau artis ibu kota. Yang ada hanya panggung sederhana, lampu-lampu terang, pengeras suara yang memanggil umat untuk larut dalam zikir. Sejak selepas Magrib, lantunan selawat telah mengalun, memanggil siapa pun yang lewat untuk bergabung.

“Masyarakat tidak minta macam-macam. Mereka hanya ingin UAS datang. Alhamdulillah, beliau hadir. Bahkan Pak Gubernur juga ikut hadir ke sini,” ujar Bupati Indragiri Hulu, Ade Agus Hartanto, yang malam itu berdiri di tengah lautan manusia.

Gubernur Riau, dalam sambutannya, menegaskan makna spiritual dari acara ini.

“Riau dibentuk dari empat sungai. Sungai melahirkan kehidupan, budaya, dan peradaban. Dengan zikir dan budaya, kita merawat tuah, menjaga marwah,” ujarnya.

Selain zikir akbar, rangkaian HUT Riau ke-68 juga diisi dengan Pekan Budaya, pertunjukan seni khas daerah, dan tradisi Pacu Jalur yang membangkitkan kebanggaan masyarakat tepian Sungai Indragiri dan Rokan. Semua ini menjadi penanda bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi juga jiwa dan marwah.

“Jika rakyat mendukung, kita bisa membangun Riau ini secara adil, transparan, dan berkeadilan. Demi generasi yang akan datang,” tegas Gubernur.

Ketika tiba gilirannya, UAS mengingatkan sejarah panjang pengorbanan Riau untuk republik.

“Saat kemerdekaan, Raja Siak Indrapura, Sultan Syarif Kasim II, menyerahkan 13 juta Gulden kepada Republik Indonesia. Setelah itu, setiap tahun Riau berkontribusi melalui hasil alam—minyak bumi, kelapa sawit, kelapa, akasia, dan berbagai kekayaan lainnya—hingga hampir sepertiga APBN. Riau juga menyumbangkan bahasa Melayu sebagai induk bahasa Indonesia. Tapi lihatlah sekarang, jalan-jalan kita banyak yang berlubang,” ujarnya, disambut takbir hadirin.

Malam itu, gema zikir dari Talang Mulya membubung ke langit hulu Riau. Dari sebuah desa yang sederhana, doa-doa mengalir mengikuti aliran Sungai Batang Cenaku, menuju muara, lalu laut lepas, membawa harapan bagi negeri.

Tabligh Akbar “Riau Berzikir” bersama UAS ini disiarkan langsung oleh TV One, dengan pemandu acara Ustaz Alnof Dinar. (urd)