KUANSING – Siang menjelang sore, Sabtu (9/8/2025), halaman pasar di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, dipenuhi warga yang antre berbelanja. Di antara kerumunan itu, sosok yang selama ini hanya mereka dengar melalui ceramah dan layar kaca hadir langsung: Ustad Abdul Somad (UAS).
Kehadiran UAS untuk menyambangi pasar murah yang digelar Polres Kuansing dalam rangka menjaga stabilitas harga pangan. Sejumlah komoditas dijual dengan harga terjangkau: beras SPHP, minyak goreng, hingga gula pasir.
“Ini apa ini, Pak Kapolres?” tanya UAS sambil tersenyum, sebagaimana terekam dalam unggahan akun Instagram Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan.
Kapolres Kuansing, AKBP R Ricky Praditiningrat, menjawab, “Alhamdulillah, Tuan Guru, kami di sini mengadakan pasar murah. Ibu-ibu bisa berbelanja dengan harga dasar, baik minyak maupun beras.”
Dengan gaya pantun khasnya, UAS pun memuji inisiatif pasar murah yang digelar polisi:
“Besi bukan sembarang besi, besi dibawa ke Kota Mekah. Polisi bukan sembarang polisi, polisi buka pasar murah,” ujarnya, disambut gelak tawa warga.
Tak sampai di situ, UAS kembali melontarkan seloroh kepada polwan yang berjaga di stan pasar murah:
“Kalau tuah ke Pelalawan, jangan lupa beli perangkap. Kalau lihat polwan, rasa hati ingin kena tangkap.”
Gelak tawa pecah lagi. Kehangatan suasana itu berpadu dengan tujuan utama kegiatan, yakni membantu warga mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga bersahabat.
Kapolres Kuansing mengaku bahagia bertemu langsung dengan UAS. Ia mengungkapkan adanya hubungan kekerabatan antara keluarga ibunya dengan keluarga ibu UAS. “Terima kasih atas kedatangan Tuan Guru di kegiatan kami. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat kepada beliau,” katanya.
Malam Berzikir di Cenaku
Beberapa jam setelah kunjungan ke pasar murah, malamnya UAS berdiri di atas panggung sederhana di Desa Talang Mulya, Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu. Di bawah langit bertabur bintang, ribuan orang dari berbagai penjuru hadir dalam Tabligh Akbar dan “Riau Berzikir” yang digelar Pemerintah Provinsi Riau sempena HUT ke-68 Provinsi Riau.
Tidak ada panggung hiburan atau artis ibu kota. Hanya lantunan selawat dan zikir yang mengalun, menyatukan warga desa, tokoh daerah, hingga Gubernur Riau dalam perayaan khidmat.
Refleksi Kapolda Riau
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, juga menyampaikan refleksi tentang makna perjalanan negeri Lancang Kuning. Dalam unggahan Instagramnya, ia menulis:
“Riau lahir dari semangat pemekaran untuk menjaga identitas kawasan timur Sumatera. Tumbuh dengan kekuatan adat dan akar budaya yang kokoh, tegak sebagai tanah tempat akar Melayu bertumbuh, kehormatan dijunjung, dan nilai luhur diwariskan dari generasi ke generasi.
Di usia ke-68 ini, Riau ibarat pohon besar berakar kuat, menjulang tegak, memberi teduh di sekitarnya. Usia boleh bertambah, zaman boleh berubah, namun marwah dan tuah harus tetap terjaga.
Semoga Bumi Lancang Kuning senantiasa dalam lindungan Ilahi, dianugerahi kedamaian, kemajuan, keberlanjutan, serta masyarakat yang rukun, berdaya, dan bermartabat. Takkan Melayu hilang di bumi Ilahi.”
Pasar murah dan zikir akbar hanyalah dua potret dari rangkaian panjang peringatan HUT ke-68 Riau tahun ini. Namun, dari Teluk Kuantan hingga Cenaku, satu hal terasa sama: perayaan yang berpadu antara penguatan ekonomi rakyat dan pemeliharaan nilai-nilai spiritual serta kebudayaan Melayu. (urd)

