BARA takdir kembali menyala di tanah yang seharusnya subur. Pada gelombang asap pekat yang menghitamkan langit Riau, seorang Bhayangkara sejati gugur. Iptu (Anumerta) Donald Junus Halomoan Aritonang (49) namanya. Wafat setelah tiga pekan berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Rokan Hilir. Ia pergi karena kelelahan yang tak tertahankan dalam misi kemanusiaan yang tak pernah ringan.
Duka menyelimuti keluarga dan rekan sejawatnya. Duka ini juga milik kita semua, sebab Donald gugur demi udara yang kita hirup. Ia bukan sekadar personel Provos Brimob yang berdinas di Batalyon B Pelopor Polda Riau. Ia adalah saksi dan pelaku sejarah dalam perjuangan panjang menghadapi krisis ekologis yang saban tahun kembali menyergap tanah kelahirannya.
Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, menyebut Donald sebagai Bhayangkara sejati. Ketika Jenderal Herimen datang ke rumah duka di Duri, Kabupaten Bengkalis, bersama jajaran utama Polda, yang dibawa bukan sekadar belasungkawa, tapi juga kesaksian: Donald adalah sosok yang telah mewakafkan tubuh dan tenaganya bagi negeri, sampai titik nadir terakhir.
Malam sebelum kepergiannya, Donald masih bercengkerama dengan rekan-rekannya. Ia makan malam seperti biasa, tidur seperti biasa, lalu pagi harinya tak pernah bangun lagi. Tak ada keluhan, tak ada tanda. Ia wafat dalam diam—sekitar pukul delapan pagi, Selasa (5/8), di pos sementara aula kantor camat Simpang Kanan, Rokan Hilir.
Dokter menyatakan tak ditemukan gejala medis yang mencurigakan. Tapi kita tahu: tubuh manusia bisa kalah oleh kerja berat yang terus-menerus, oleh tanggung jawab yang tanpa henti.
Di Tempat Pemakaman Umum Umban Sari, Pekanbaru, Donald dimakamkan dengan upacara kedinasan. Ada tembakan salvo. Ada pelukan duka. Ada dua anak dan seorang istri yang kini harus melanjutkan hidup tanpa kepala keluarga. Tapi apakah cukup kita mengenangnya dengan karangan bunga dan seremoni?
Mengenang Donald tidak cukup dengan selempang anumerta. Tidak selesai dengan kenaikan pangkat luar biasa dari Ipda ke Iptu. Itu adalah haknya. Tapi yang paling penting: apakah kita belajar dari kepergiannya?
Riau bukan sekali dua kali dilanda karhutla. Setiap tahun, personel TNI, Polri, BPBD, dan relawan berjibaku di tengah gambut yang mudah terbakar. Kita tahu polanya, kita tahu risikonya, dan kita tahu korbannya. Tetapi apakah kita cukup serius mengatasinya?
Donald meninggal di garis depan. Ia menghadapi api yang lahir dari kelalaian manusia, dari pembiaran sistemik, dari kebijakan yang terlalu lambat datang dan terlalu cepat lupa. Maka mengenangnya berarti memperkuat upaya pencegahan. Mengenangnya berarti meninjau ulang kebijakan tata kelola lahan. Mengenangnya berarti menjadikan pengendalian karhutla bukan hanya agenda tahunan, tapi komitmen lintas rezim.
LAM Riau bahkan mengingatkan bahwa gugurnya Donald adalah “cermin bagi semua pihak” bahwa karhutla bukan hanya soal asap, tapi soal nyawa. Dan setiap nyawa yang hilang harus menjadi alasan bagi negara untuk lebih serius.
Di antara panas dan jelaga jerebu, Donald adalah wajah pengabdian yang kita butuhkan. Disiplin, jujur, pekerja keras, itulah kata-kata yang ditinggalkan rekan-rekannya. Ia tidak viral, ia tidak bicara banyak. Tapi keberadaannya adalah alarm bagi kita semua: bahwa masih ada yang mempertaruhkan hidup di medan yang kita anggap sepele.
Bagaimana cara mengenang Donald Aritonang?
Kita mengenangnya dengan cara menjaga hutan agar tidak lagi terbakar. Kita mengenangnya dengan menghormati setiap petugas yang bertugas, bukan hanya ketika mereka gugur. Kita mengenangnya dengan tidak membiarkan pengorbanan seperti ini menjadi rutinitas yang tak memberi pelajaran.
Dan mungkin, suatu hari nanti, di musim kemarau yang tidak disertai api dan kabut, di musim yang kembali hijau-ranau, anak-anak Donald bisa berdiri di tanah yang sama dengan ayah mereka gugur, dan berkata bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. (redaksi)

