MADURA — Pekan lalu, di sela-sela jadwal safari tabligh akbarnya, Tuan Guru Ustaz Abdul Somad (UAS) menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman penyair kawakan KH D Zawawi Imron di Madura. Kunjungan ini berlangsung hangat dan penuh hikmah, menandai pertemuan dua tokoh dari dua dunia yang berbeda namun memiliki mata air spiritual yang sama, yakni cinta akan kebenaran, bahasa, dan Tuhan.
KH D Zawawi Imron, yang dikenal dengan julukan “Penyair Celurit Emas”, adalah sastrawan nasional yang puisi-puisinya menembus ruang budaya dan religi. Karya legendarisnya Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata menjadikannya tokoh utama dalam khazanah puisi Indonesia modern. Beberapa karyanya bahkan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda, hingga Bulgaria.
Dalam suasana santai dan bersahaja, keduanya terlibat dalam dialog yang tidak hanya menyentuh hal-hal pribadi dan spiritual, tetapi juga sarat filosofi hidup.
“Afwan, Masyaallah. Saya teman almarhum Pak Tenas Effendy, juga kenal dengan Rida K Liamsi,” ujar Zawawi membuka obrolan, merujuk pada nama sastrawan dari Riau yang juga sahabat karibnya.
Ustaz Abdul Somad pun menimpali dengan kerendahan hati. Ia bercerita pernah bersentuhan Pondok Pesantren Al-Amin tempat Zawawi turut mengajar dan berjuang di masa awal berdirinya pesantren.
Obrolan kemudian menukik ke hal-hal yang lebih puitis dan spiritual. UAS menyebut salah satu syair Zawawi yang sempat ia putar di mobil. Puisi cinta yang menggetarkan tentang suami yang memuliakan istri dengan kata-kata lembut dan penuh iman.
“Izinkan aku mencium sebutir debu yang melekat di ujung sepatumu,” kutip UAS dari puisi tersebut.
Zawawi tersenyum dan menjawab, “Orang nikah tanpa cinta itu hambar. Kalau cinta dibingkai tauhid, maka rumah tangga jadi ibadah.”
Menurut Zawawi, ketika seorang istri mendengar bacaan Al-Qur’an dari lisan suaminya, yang ia dengar sejatinya adalah firman Allah. “Suara suami adalah suara qari terindah bagi istrinya.”
Keduanya lalu berdiskusi tentang makna ilham dalam menulis puisi. Zawawi menyebut bahwa penyair adalah makhluk yang selalu mengolah taman-taman imajinasi dan hati nurani. Ilham, baginya, adalah anugerah yang tak datang dari logika, melainkan dari kesadaran spiritual yang jernih.
“Berpikirlah dengan hati yang bersih, maka kemuliaan akan melingkupi hatimu,” ujar Zawawi mengutip petuah Bugis kuno. “Kalau hati diselimuti kemuliaan, tak akan ada ruang untuk kebencian.”
UAS mengangguk. “Saya pernah dibela oleh orang NU yang belum pernah bertemu saya. Ia bilang, saya temukan fiqh Syafi’i dalam dakwah Ustaz Abdul Somad.”
Keduanya lalu saling menguatkan dengan cerita tentang kesantunan dalam bersikap. Zawawi menekankan pentingnya tidak membenci, bahkan dalam situasi terzalimi. Ia mencontohkan tokoh sejarah Muhammad Roem yang tetap menyolatkan tokoh lawan politiknya, meski pernah dipenjarakan oleh rezim tersebut.
“Orang yang hatinya diselimuti sifatullah, tak punya waktu untuk membenci,” ujarnya tegas.
Obrolan ini lalu ditutup dengan refleksi tentang pepatah Latin mens sana in corpore sano — dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Namun menurut Zawawi, Islam membalikkan pemahaman itu.
“Dalam jiwa yang sehat, akan lahir tubuh yang sehat,” katanya. “Itulah bedanya pandangan Timur dan Barat.”
Silaturahmi singkat itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan pertemuan dua arus kebijaksanaan, antara bahasa dan dakwah, antara puisi dan tauhid. Di rumah sederhana yang penuh kehangatan di Madura itu, keduanya seakan menjadi pantulan bening telaga tauladan satu sama lain, menyaksikan bahwa kebenaran selalu punya tempat di hati yang bersih. (urd)

