PEKANBARU — Gemuruh tepuk tangan mengiringi tirai yang perlahan menutup lakon Teater Bangsawan Peterakna: Episode Mangkat Dijulang di panggung Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Sabtu (26/7) malam.
Bukan hanya cerita yang ditinggalkan di atas panggung, tetapi juga jejak kesadaran yang menggetarkan hati tentang sejarah, budaya, dan martabat bangsa Melayu.
Di deretan penonton, hadir sosok tamu kehormatan malam itu, Kapolda Riau, Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan. Ia tampak khusyuk mengikuti tiap adegan, merekamnya, seolah larut dalam nafas puisi, irama syair, dan filosofi kepemimpinan yang dipentaskan. Tampa Kapolda duduk khidmat bersama mantan Gubernur Riau, Saleh Djasit.
“Malam ini saya menyaksikan sebuah karya yang sarat nilai budaya, juga menggugah kesadaran akan jati diri dan marwah Melayu,” tulis Herry Heryawan dalam unggahan media sosial setelah pertunjukan berakhir.
Baginya, panggung teater bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin sejarah, tempat berkaca bagi generasi muda agar tak lupa akar. Peterakna —kata Melayu arkhaik yang berarti singgasana Melayu —menjadi judul pertunjukan, sekaligus kunci yang membuka pintu-pintu tafsir tentang kemuliaan pemimpin, pengorbanan, dan warisan kebijaksanaan yang dijunjung tinggi dalam tamadun Melayu.
Kapolda yang juga dikenal sebagai penikmat seni budaya ini menyebut, budaya adalah fondasi yang kokoh untuk membangun peradaban. “Saya percaya, budaya adalah pondasi kuat untuk membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat,” ujar dia.
Kapolda tak lupa mengucapkan terimakasih kepada para seniman, budayawan, dan seluruh penggerak pertunjukan. Ia sadar, menjaga api budaya adalah kerja yang diam, namun mendasar. “Kita perlu ruang-ruang seperti ini agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.” (urd)

